Mengenal Lebih Dalam tentang Khat Kufi

Salah satu bentuk awal penulisan kitab suci, sebagaimana yang dapat kita lihat melalui salinan Madinah abad ke-8 M — yang disebut sebagai al-Qur’an tertua yang ditemukan. Bentuknya yang kaku, tegak dan condong ke kanan. Huruf-huruf yang disusun bersambung ini tampak seperti semak kaktus di padang pasir, tanpa harakat (baris tanda baca) dan tanpa hiasan apa-apa. Susunan ini disebut sebagai tulisan Ma’il.

Tulisan Khat Kufi dan Kursif

Pada umumnya tulisan (khat) Arab terbagi dua, Kufi dan Kursif. Kufi untuk bentuk-bentuk yang tegak dan runcing sudut-sudutnya, sedangkan Kursif untuk kebanyakan huruf yang luwes dan bundar sudut-sudutnya — dan ini banyak ragamnya seperti naskhi, tsuluts, dst.

Mengenal Menegani Khat Kufi

Kufi mengacu pada nama Kufah, salah satu kota kekhalifahan Islam selain Madinah, Damaskus dan Baghdad pada masa generasi salaf (tiga abad pertama Islam). Bentuk-bentuk kaku yang meruncing itu memang merupakan prototype aksara Arab. Ini misalnya dapat ditelusuri ke bentuk tulisan Ma’il yang disinggung di awal tadi.  Selain itu, bentuk Mashq yang berkembang di Mekkah dan Madinah pada awal abad Hijriyah.

Bentuk kaligrafi Kufi mencapai kesempurnaannya pada abad ke-2 H/ 8 M. Garis-garis vertikalnya cenderung rendah, sedangkan garis horisontalnya memanjang. Dan sengaja ditulis pada bidang persegi panjang dengan lebar bidang melebihi ukuran tingginya — yang terkesan memberi laju dinamik. Al-Qur’an dengan tulisan Kufi awal sebagian besar ditulis di atas helai kulit binatang yang disamak. Bentuk ini tampak sederhana pada awalnya namun pada permulaan abad ke-9 menjadi tulisan yang lebih bersifat dekoratif.

Kufi ornamental ini banyak diterakan, secara efektif, di atas batu, pualam, logam, kayu, gading, kaca, kain, dan velum (kulit binatang). Sebuah contoh penulisan kufi ornamental yang diukir pada pualam, tertera pada makam Sultan Mahmud al-Ghazi — penguasa Dinasti Ghaznawi di perbatasan India atau Afghanistan sekarang — tahun 1030 M. Tulisan pada batu pualam ini menonjol dari latarnya yang ditakik ke dalam. Pada bentuknya yang klasik monumental dihiasi sulur-suluran di sekelilingnya. Berbeda dengan rumusan di atas, garis-garis vertikalnya cenderung meninggi sedangkan ke samping garis horisontalnya cenderung pendek-pendek.

Bentuk ornamental kufi klasik ini juga berkembang seiring waktu dengan pola daun (foliate), tumbuhan (floriater), lipatan, jalinan, silangan dan makhluk hidup. Ada juga yang dikembangkan dalam bentuk geometrik arabeska. Khususnya mulai abad ke-11 hingga penghujung abad ke-12, dari awalnya hiasan pola daun dan tetumbuhan sekadar menghiasi sisi-sisi latar (luar) kaligrafi, pola-pola demikian lalu menjadi bagian dari huruf yang sering dilekatkan pada ujung huruf.

Atau, jalinan huruf-huruf itu sendiri yang seolah menjadi bentuk tanaman (hiasan). Bahkan lebih jauh, aspek keterbacaannya menjadi tidak terlalu penting, sedangkan fungsi ornamennya menjadi lebih mengemuka.

Perbedaan Penulisan Kufi Timur dan Barat

Di sisi barat dan timur pusat peradaban Islam yang waktu itu berkisaran di Baghdad, tulisan Kufi dikembangkan dengan caranya masing-masing. Sehingga, muncul istilah Kufi Barat (Maghrib, Spanyol-Andalusia) dan Kufi Timur (di wilayah Persia).

1. Kufi Timur

Menurut beberapa ahli, Kufi Timur lebih mempesona, bahkan, daripada tulisan kufi baku (standar) sendiri. Bentuk ini dikembangkan oleh para ahli kaligrafi Dinasti Abbasiyah (terutama di wilayah Persia yang saat itu masih dalam kekuasaan Abbasiyah) pada akhir abad ke-10.

Ciri utamanya adalah sapuan ke atas (sisi vertikalnya) yang panjang, dengan ujung runcing ke kiri, sedangkan sapuan pendeknya (bukan horisontal) bengkok ke kiri. Kembangannya yang lebih rendah melebar ke bidang sublinier (terkesan menjulur). Cara semacam ini dianggap memberikan gerak laju yang dinamis, dan oleh para sarjana Eropa disebut sebagai Bent Kufic (Kufi Miring atau Kufi Bengkok). Salah satu bentuk terindah dari tulisan ini adalah yang juga disebut gaya Qarmatia, yang memadukan huruf-huruf Kufi Timur dengan ornamen tumbuhan dan arabeska, seperti terdapat pada al-Quran (surah at-Tariq) peninggalan Persia abad ke-11.

2. Kufi Barat

Sedangkan di wilayah barat kekuasaan Baghdad (Maghrib) penulisan khat Arab dilestarikan sebagaimana dalam bentuk penulisan awalnya, bersifat klasik dan tradisional. Penulisan semacam ini, dibandingkan dengan perkembangannya yang lebih pesat di wilayah pusat peradaban maupun sisi timurnya, menemukan bentuk khasnya tersendiri. Dalam perkembangannya tulisan ini menjadi perpaduan antara tulisan kufi dan kursif, yang lebih dikenal sebagai Khat Maghribi.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *