Pengertian dan Sejarah Seni Kaligrafi

Kalau membahas seni kaligrafi, saya jadi berpikir apakah anak-anak sekarang masih belajar tulisan indah di sekolahnya, tapi waktu saya masih sekolah dasar di akhir tahun ’80an menulis indah di atas kertas strimin itu adalah salah satu pelajaran yang saya gemari. Menulis yang baik ternyata ada caranya. Setiap huruf dan raitannya ada ukuran dan teknik menarik tegak dan lengkung garisnya. Setiap huruf, besar-kecilnya, ada ukuran idealnya.

Menulis indah umumnya disebut dengan kaligrafi, diadopsi dari kata calligraphy (Inggris) yang bersumber dari dua suku kata Yunani, kallos (indah) dan graphia (tulisan, aksara, atau gambar). Kaligrafi secara umum telah dikenal dalam peradaban dunia, tidak hanya di Barat, tapi juga di Timur dan negeri-negeri jauh. Maka karenanya, kita mengenal kaligrafi Cina, Jawa, dan Arab.

Sejarah Kaligrafi Arab

Karena selanjutnya kita akan membicarakan tentang seni kaligrafi Arab, maka perlu disebut padanannya dalam bahasa Arab, yaitu Khathth yang kemudian diindonesiakan menjadi Khat.

Pengertian khat yang diuraikan al-Akfani (w. 1349 M) ini, yang juga dikenal sebagai ulama hadis, adalah yang paling sering dikutip: “Khat adalah ilmu yang mengajarkan tentang huruf-huruf tunggal dan cara meletakkannya dalam suatu susunan atau rangkaian tulisan, atau apapun yang ditulis dengan media garis, dan bagaimana yang harus ditulis atau yang tidak (boleh) ditulis, serta apa dan bagaimana ejaan yang dapat digubah.”

Pengertian Seni Kaligrafi

Ini artinya kaligrafi berkaitan dengan teknik atau “seni”. Lebih jauh, Yaqut al-Musta’simi, seorang Khaththath (kaligrafer) pada masa akhir Daulah Abbasiyah, menekankan fungsi kaligrafi bagi jiwa. Ia menyebut, “Kaligrafi (khat) adalah seni arsitektur rohani yang tampak melalui bentuk jasmani (material atau visual, dalam hal ini tulisan)”. Dengan kata lain, khat berkaitan dengan kehalusan jiwa atau rohani.

Seni kaligrafi dari Malika.id

Seorang kaligrafer pemula melatih kesabarannya dalam menarik garis, dan dalam perhatiannya terhadap setiap ukuran dan bentuk huruf. Seorang kaligrafer handal menekuni setiap tegak dan lengkung garis, memerhatikan panjang dan pendek hubungan antar-huruf, secara halus maupun tajam membentuk huruf-huruf yang terangkai dalam suatu kata atau kalimat, bahkan lebih jauh ia memberi makna yang lebih pada suatu kalimat dengan keindahan rangkaiannya dalam beragam gaya tulisan. Inilah yang dimaksud dengan seni menulis (kaligrafi) yang memerlukan suatu penghayatan rohani atau jiwa.

Bagi orang yang memandang karya kaligrafi, tulisan indah dapat memberikan sentuhan halus, menanamkan apresiasi bagi sebuah ketekunan dan keterampilan. Lebih jauh lagi, bagi yang benar-benar menghayati, setiap tarikan garis identik dengan tarikan napas dalam kehidupan. Ketekunan, yang berarti juga ketelitian atau ketelatenan, membentuk jiwa yang kokoh, menghargai ketekunan itu pun juga dapat mengokohkan jiwa.

Pada masa awalnya tulisan Arab masih sebatas satu bentuk yang kaku, yang berupa sekadar catatan peristiwa. Dalam inskripsi Umm al-Jimal atau Imru’ al-Qays (abad ke-3 dan 4 masehi) tulisan Arab masih berupa prototype kaku yang tak memiliki titik dan baris. Begitu pula dalam manuskrip al-Qur’an salinan Madinah abad ke-8 yang berupa tulisan Ma’il (miring), orang Islam yang tak hapal Qur’an dan tak pernah belajar tulisan gundul akan sangat sulit membaca, lebih-lebih memahaminya.

Setelah sekian abad penyempurnaan — dengan tokoh-tokohnya seperti Abul Aswad ad-Du’ali (w. 688), Yusuf as-Sijzi (w. 825), Ibnu Muqlah (w. 940), Yaqut al-Musta’simi (w. 1298), dll.—kaligrafi Arab pun menjadi salah satu puncak dari kebudayaan Islam. Ia menjadi media untuk menyalin kitab suci yang indah, bahkan menjadi hiasan dinding yang memberi makna keberadaan Sang Pencipta dalam rumah tangga kita.

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *