Perkembangan Seni Kaligrafi

Kaligrafi semakin mendapat tempat dalam kebudayaan Islam. Ia bahkan menjadi seni visual yang lebih bebas konflik secara syar’i, dibandingkan misalnya dengan bentuk visualisasi seni rupa lainnya. Sebagian ahli bahkan menyebutnya sebagai puncak seni Islam.

Kaligrafi sebagai media penghias kitab suci

Kaligrafi atau khat menjadi media penghias kitab suci. Ia menjadi alat untuk memperindah kalam Tuhan. Tidak sedikit penguasa yang mulanya keras menjadi lunak hatinya karena kebenaran kalam ilahi, lalu menjadi pelindung bagi para pelukis kaligrafi. Timur Leng, misalnya. Penguasa yang mulanya dikenal bengis dan kejam ini setelah memeluk Islam memberi perhatian istimewa terhadap seni kaligrafi, sehingga namanya dipakai menjadi suatu gaya dalam penulisan al-Qur’an.

Disebutkan bahwa gaya yang disebut Timuriyah ini bersifat monumental dengan pola geometris. Hal ini ditujukan untuk menciptakan keselarasan antara keindahan dan kemegahan, dengan memadukan sifat ornamentik tulisan Kufi, kejelasan Rayhani, dan Naskhi untuk bidang yang lebih sempit. Meskipun praktek pencampuran beberapa gaya (huruf) ini sudah ada pada masa Ibnu Muqlah, namun dikatakan bahwa gaya Timuriyah-lah yang memperluas pemakaiannya dalam penulisan al-Qur’an.

Kaligrafi untuk memperindah bangunan suci di Islam

Selain untuk memperindah al-Qur’an, kaligrafi juga digunakan untuk menghias bangunan-bangunan suci seperti masjid dan makam-makam orang suci (para awliya). Entah dengan penukilan ayat-ayat al-Qur’an, Hadis, maupun kata-kata hikmah dari para ulama maupun penyair yang memuji kebesaran Allah. Kaligrafi juga menjadi dekorasi yang menghiasi kitab-kitab keagamaan. Bahkan, juga untuk menghias perkakas yang bersifat profan sekuler, seperti dalam hiasan kap lampu yang indah, porselen, koin atau mata uang, panji-panji kerajaan, dan dinding-dinding istana.

Beberapa bentuk tulisan dalam Seni Kaligrafi

Dari sekadar tulisan yang bersifat abstrak dekoratif, seni kaligrafi juga menjelajah bentuk-bentuk figuratif, baik dalam bentuk hewan—seperti burung, macan, kuda—maupun dalam bentuk abstraksi manusia. Atau, bentuk figuratif lainnya semisal bentuk kapal. Kaligrafi hewan, misalnya, mulai berkembang pada abad ke-15 dengan memadukan tulisan Tsulutsi, Naskhi dan Farisi (Ta’liq dan Nasta’liq). Bentuk semacam ini lazim juga disebut Thugra, yaitu suatu rancangan kaligrafis yang khususnya dikenal sebagai lambang para Sultan Dinasti Utsmani atau Ottoman.

Perkembangan Seni Kaligrafi di Indonesia

Sebuah bentuk thugra peninggalan kekhalifahan Ottoman dari abad ke-16 mengambil figur yang memadukan bentuk keong dan kapal layar. Tulisannya berbunyi “Salim Syah ibn Sulayman Syah Khan al-Muzhaffar Da’iman”, ini mengacu pada Sultan Salim bin Sulayman yang Agung atau lebih dikenal sebagai Salim II (1524-1574). Sultan Salim inilah yang mengeluarkan perintah untuk melakukan ekspedisi besar-besaran ke Aceh pada tahun 1567. Atas permintaan penguasa Aceh Sultan Alauddin al-Qahhar (1539-1571). Dengan bantuan ini Aceh menyerang Malaka yang dikuasai Portugis pada tahun 1568.

Bentuk Thugra lainnya, yang diduga juga berasal dari Turki Ottoman abad ke-19. Thugra ini berbentuk burung dijalin dari lafaz Bismi Allah ar-Rahman ar-Rahim dengan tulisan Tsulutsi. Pada bagian dalam perut burung higga ke ujung mata dihiasi dekorasi sulur-suluran. Sedangkan di bagian lehernya tertulis “Ya Rahman, Ya Rahim”

1. Perkembangan kaligrafi Islam di Indonesia melalui lukisan

Seiring perkembangannya kaligrafi Islam tidak hanya menjadi hiasan Qur’ani yang suci. Kaligrafi juga dikembangkan dalam lukisan-lukisan para pelukis modern. Di Indonesia, para pelukis Mazhab Bandung mengembangkan lukisan abstrak ekspresionistik. Dengan muatan kaligrafi Islam, sejak tahun 1970an. Para pelukis itu, di antaranya Ahmad Sadali dan A.D. Pirous, juga menginspirasi para pelukis dari Yogyakarta dan Surabaya seperti Amri Yahya, Syaiful Adnan, dan Amang Rahman Jubair. Lima orang ini memamerkan lukisan-lukisan kaligrafi mereka di Jeddah dan Riyadh dalam event Exhibition of Islamic Calligraphic Paintings (21-27 Desember 1985).

2. Perkembangan kaligrafi Islam di Indonesia melalui pameran

Selain dalam kegiatan-kegiatan pameran seni rupa, yang lebih sering diberi tajuk Pameran Seni Rupa Islami, seni kaligrafi juga dikembangkan melalui lomba-lomba yang umumnya disebut Musabaqah Khattil Qur’an, yang merupakan bagian dari Musabaqah Tilawatil Qur’an atau lazim disebut MTQ. Pameran kaligrafi sendiri sebagai bagian dari MTQ sudah diadakan sejak MTQ Nasional XI di Semarang pada tahun 1979, dan seiring perkembangannya mendapat apresiasi yang besar dari masyarakat Islam di Indonesia.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *